Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label LINGKUNGAN BAHASA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LINGKUNGAN BAHASA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Maret 2011

Pendekatan Lingkungan Dalam Pembelajaran Bahasa

1. Pendahuluan
Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya, budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya.
Pendekatan pembelajaran ikut berperan dalam keberhasilan proses pembelajaran bahasa Indonesia. Itulah sebabnya pendekatan pembelajaran juga perlu dikembangkan untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan. Oleh karena itu, guru harus memiliki kemampuan mengembangkan pendekatan dan memilih metode pembelajaran yang efektif, sehingga hasil pembelajaran dapat ditingkatkan.
Mata pelajaran bahasa Indonesia meliputi empat macam standar kompetensi yaitu membaca, mendengarkan, berbicara, dan menulis. Keempat standar kompetensi itu harus diberikan kepada siswa dengan alokasi waktu yang memadai. Untuk bisa menyampaikan standar kompetensi tersebut kepada siswa, diperlukan kemampuan dari guru dalam memilih pendekatan dan metode secara tepat dan efektif.
Permasalahannya adalah bagaimana menerapkan pendekatan lingkungan dalam pembelajaran bahasa Indonesia?
2. Pendekatan Lingkungan
Pendekatan lingkungan merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang berusaha untuk meningkatkan keterlibatan peserta didik melalui pendayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Pendekatan ini berasumsi bahwa kegiatan pembelajaran akan menarik perhatian peserta didik, jika apa yang dipelajari diangkat dari lingkungan, sehingga apa yang dipelajari berhubungan dengan kehidupan dan berfaedah bagi lingkungannya (Mulyasa, 2005:101)
Dalam pendekatan lingkungan, pelajaran disusun sekitar hubungan dan faedah lingkungan. Isi dan prosedur disusun hingga mempunyai makna dan ada hubungannya antara peserta didik dengan lingkungannya. Pengetahuan yang diberikan harus memberi jalan keluar bagi peserta didik dalam menanggapi lingkungannya. Pemilihan tema sebaiknya ditentukan oleh kebutuhan lingkungan peserta didik. Misalnya di lingkungan petani, tema yang berkaitan dengan pertanian akan memberikan makna yang lebih mendalam bagi para peserta didik. Demikian halnya di lingkungan pantai, tema tentang kehidupan pantai akan sangat menarik minat dan perhatian peserta didik.
Belajar dengan pendekatan lingkungan berarti peserta didik mendapatkan pengetahuan dan pemahaman dengan cara mengamati sendiri apa-apa yang ada di lingkungan sekitar, baik di lingkungan rumah maupun di lingkungan sekolah. Pada kesempatan itu, peserta didik dapat menanyakan sesuatu yang ingin diketahui kepada orang lain di lingkungan mereka yang dianggap tahu tentang masalah yang dihadapi.
Berkaitan dengan pendekatan lingkungan ini, UNESCO (dalam Mulyasa, 2005:102) mengemukakan jenis-jenis lingkungan yang dapat didayagunakan oleh peserta didik untuk kepentingan pembelajaran yaitu:
1) Lingkungan yang meliputi faktor-faktor fisik, biologi, sosio ekonomi, dan budaya yang berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung, dan berinteraksi dengan kehidupan peserta didik.
2) Sumber masyarakat yang meliputi setiap unsur atau fasilitas yang ada dalam suatu kelompok masyarakat.
3) Ahli-ahli setempat yang meliputi tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki pengetahuan khusus dan berkaitan dengan kepentingan pembelajaran.
Pembelajaran berdasarkan pendekatan lingkungan dapat dilakukan dengan dua cara:
1) Membawa peserta didik ke lingkungan untuk kepentingan pembelajaran. Hal ini bisa dilakukan dengan metode karyawisata, metode pemberian tugas, dan lain-lain.
2) Membawa sumber-sumber dari lingkungan ke sekolah (kelas) untuk kepentingan pembelajaran. Sumber tersebut bisa sumber asli. Seperti nara sumber. Bisa juga sumber tiruan, seperti: model, dan gambar (Muslim, 2007:3)
Guru sebagai pemandu pembelajaran dapat memilih lingkungan dan menentukan cara-cara yang tepat untuk mendayagunakannnya dalam kegiatan pembelajaran. Pemilihan tema dan lingkungan yang akan didayagunakan hendaknya didiskusikan dengan peserta didik.
3. Pendekatan Lingkungan dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
Adapun ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek: mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.
Dalam kaitan untuk membekali keterampilan berkomunikasi, maka siswa harus dibiasakan dengan kegiatan membaca dan menulis. Jadi dari keempat aspek tersebut, aspek membaca dan menulis dalam pembelajaran bahasa Indonesia perlu mendapat porsi yang lebih dibandingkan dengan aspek yang lain. Dengan demikian, kemampuan membaca dan menulis itu perlu diberi makna yang dapat berguna bagi peningkatan kehidupannya.
Pendekatan lingkungan dapat dilakukan untuk pelajaran membaca, misalnya, bahan bacaan dapat diambil dari surat kabar. Di samping surat kabar yang berskala nasional yang banyak menyajikan isu-isu nasional, ada surat kabar lokal yang banyak menyajikan isu-isu daerah. Kedua jenis sumber ini dapat dimanfaatkan. Bahan bacaan yang mengandung muatan nasional dan global dapat diambil dari surat kabar berskala nasional, sedangkan bahan bacaan yang mengandung muatan lokal dapat diambil dari surat kabar daerah. Berdasarkan bahan bacaan ini, guru dapat mengembangkan pembelajaran bahasa Indonesia yang kontekstual. Peserta didik diperkenalkan dengan isu-isu yang menjadi perhatian masyarakat di sekitarnya dan masyarakat yang tatarannya lebih luas.
Sebagai ilustrasi, dalam pembelajaran membaca, agar siswa tertarik pada pembelajaran tersebut dan agar dalam diri siswa tumbuh minat atau kegemaran membaca, maka guru bisa memberikan stimulus yang berupa tugas. Tugas yang diberikan bisa secara individu maupun kelompok. Misalnya tugas membaca novel atau buku-buku pengetahuan yang terdapat di perpustakaan sekolah. Untuk menyelesaikan tugas seperti yang dimaksud di atas, maka para siswa tersebut harus:
a. Masuk ke ruang perpustakaan
b. Pergi ke tempat penyimpanan buku
c. Memilih novel atau buku yang dimaksud
d. Membawa novel atau buku tersebut ke ruang baca
e. Membaca novel atau buku tersebut
Menurut KTSP, kegiatan pembelajaran tidak selalu berlangsung di dalam kelas. Kegiatan pembelajaran dapat juga dilakukan di luar kelas atau di luar sekolah. Dengan beragamnya tempat pembelajaran dapat membuat suasana belajar tidak membosankan. Misalnya saja untuk pembelajaran menulis. Pelaksanaan pembelajaran menulis ini selain dilaksanakan di dalam kelas, juga bisa dilaksanakan di luar kelas atau bahkan di luar sekolah.
Sesuai dengan fungsi pendekatan lingkungan, pembelajaran menulis yang dilaksanakan di dalam kelas dapat melibatkan orang tua dan masyarakat sebagai sumber belajar. Misalnya saja ada orang tua peserta didik yang berprofesi sebagai wartawan, maka guru dapat mengundang orang yang bersangkutan untuk berbicara dan berdiskusi tentang pekerjaannya dengan peserta didik.
Dalam lingkungan sekolah, staf sekolah juga dapat dimanfaatkan. Misalnya, untuk pelajaran menulis surat resmi, guru bisa meminta staf administrasi untuk berbicara tentang penulisan surat. Hal ini di samping berguna sebagai sumber belajar, kegiatan ini juga berguna untuk membentuk lingkungan sekolah yang kondusif, yaitu adanya hubungan dan kerja sama yang baik di antara peserta didik, guru, dan staf.
Untuk pembelajaran menulis yang dilaksanakan di luar sekolah, siswa bisa diajak berkunjung ke suatu tempat yang sesuai dengan tema yang sudah ditetapkan. Misalnya: daerah pegunungan, pantai atau lembaga-lembaga tertentu. Adapun metode yang digunakan bisa menggunakan metode karyawisata, yaitu suatu perjalanan yang dilakukan oleh peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam karyawisata menurut Mulyasa (2005:112) adalah sebagai berikut:
1) menentukan sumber-sumber masyarakat sebagai sumber pembelajaran
2) mengamati kesesuaian sumber belajar dengan tujuan dan program sekolah
3) menganalisis sumber belajar berdasar nilai-nilai pedagogis
4) menghubungkan sumber belajar dengan kurikulum, apakah sesuai dengan tuntutan kurikulum atau tidak.
Selain metode karyawisata, juga bisa digunakan metode latihan, merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu, dan suatu keterampilan.
Dalam pembelajaran menulis, stimulus yang diberikan bisa berupa latihan. Dalam setiap proses pembelajaran menulis, latihan menjadi komponen utama yang harus dirancang dan dilaksanakan. Penyajian materi saja sama sekali tidak menjamin pemunculan respons yang diharapkan jika tidak ada komponen latihannya. Hal ini membuktikan bahwa latihan bagi siswa menjadi penting nilainya dalam suatu proses pembelajaran menulis.
Menurut Roestiyah dan Yumiati Suharto (1995:128) ada beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam metode latihan yaitu:
1) Guru harus memilih latihan yang mempunyai arti luas, yang mampu menyadarkan siswa akan kegunaan bagi kehidupannya sekarang ataupun di masa yang akan datang.
2) Guru harus mengadakan variasi latihan dengan mengubah situasi dan kondisi latihan, sehingga timbul respons yang berbeda untuk peningkatan dan penyempurnaan keterampilannya.
3) Perlu mengutamakan ketepatan, agar siswa melakukan latihan secara tepat.
4) Waktu latihan hendaknya singkat sehingga tidak meletihkan dan membosankan. Waktu latihan harus menyenangkan dan menarik, sehingga menghasilkan keterampilan yang baik.
Sebagai ilustrasi, dalam pembelajaran menulis. Setelah siswa diajak melihat lingkungan alam ke suatu tempat tertentu, kemudian siswa diberi latihan untuk menulis puisi atau menulis cerita dengan tema yang sudah ditentukan. Dengan seringnya latihan menulis, lama kelamaan siswa akan mempunyai keterampilan menulis dengan baik. Bagi siswa yang berhasil menulis puisi atau menulis non sastra dengan baik perlu mendapatkan penguatan. Penguatan di sini bisa berupa hadiah atau pujian. Sedangkan siswa yang tidak melakukan latihan yang diberikan oleh guru, perlu mandapat teguran atau hukuman.
4. Penutup
Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Indonesia mencakup komponen kemampuan berbahasa dan kemampuan bersastra yang meliputi aspek-aspek: mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Pendekatan lingkungan dapat dilakukan untuk pelajaran membaca, misalnya, bahan bacaan dapat diambil dari surat kabar. Di samping surat kabar yang berskala nasional yang banyak menyajikan isu-isu nasional, ada surat kabar lokal yang banyak menyajikan isu-isu daerah. Untuk pembelajaran menulis yang dilaksanakan di luar sekolah, siswa bisa diajak berkunjung ke suatu tempat yang sesuai dengan tema yang sudah ditetapkan. Misalnya: daerah pegunungan, pantai atau lembaga-lembaga tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
Mulyasa, E. 2005a. Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK. Bandung: remaja Rosdakarya.
________. 2005b. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Muslim, M. Umar. 2007. KTSP dan Pembelajaran Bahasa Indonesia. http://Johnherf.wordpress.com/2007/03/15/ktsp-dan-pembelajaran-bahasa-indonesia/ diakses pada tanggal 21 April 2007
Roestiyah dan Yumiati Suharto. 1995. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Bina Aksara.

Peranan Guru sebagai Lingkungan Belajar Bahasa Kedua

Tulisan ini tidak bayak menekankan aspek "ilmiah teoretis" tentang belajar dan pembelajaran bahasa kedua (B2). Dalam hal ini B2 itu adalah bahasa Indonesia (BI) yang sudah banyak dibahas orang, apalagi teori-teori itu pun kebanyakan berasal dari dunia barat yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan kita di Indonesia. Pengalaman penulis dalam belajar bahasa dan "memperoleh" bahasa Inggris, dan pengalamannya dalam mengajarkan BI kepada orang atau penutur non-BI, akan mewarnai tulisan ini.


Belajar dan Lingkungan Belajar

Banyak sekali batasan tentang belajar, tetapi penulis berpegang kepada batasan kaum kognisi, khususnya Jean Piaget, yang pada intinya mengemukakan bahwa belajar merupakan interaksi antara individu pebelajar (learner) dengan lingkungan. Dalam Language Two, oleh Heidy Dulay, dkk mengemukakan adanya empat lingkungan makro dan tiga lingkungan mikro yang bisa berpengaruh. Lingkungan makro ialah (1) kealamian bahasa yang didengar; (2) peranan pebelajar dalam komunikasi; (3) ketersediaan alat acuan untuk memperjelas makna; dan (4) siapa yang menjadi model bahasa sasaran. Lingkungan mikro terdiri dari (1) tonjolan (salience), (2) balikan (feedback), dan (3) frekuensi.
Pertanyaannya, di mana posisi guru? Jawaban saya, guru merupakan salah satu tonggak lingkungan: pada lingkungan makro dia setidaknya bisa berposisi sebagai model, dan pada lingkungan mikro guru berposisi sebagai pemberi balikan.

Pendekatan

Di dunia pembelajaran bahasa (language learning) sekarang, termasuk pembelajaran B2, tampak masih diberlakukan pendekatan komunikatif integratif, disamping Ausable yang mengingatkan ihwal pentingnya kebermaknaan dalam belajar (meaningful learning) bagi pebelajar.
Berdasarkan pendekatan ini, metode dan teknik pembelajaran mengarah pada kegiatan berkomunikasi yang bermakna bagi pebelajar. Pendekatan integratif dilandasi oleh konsep bahwa bahasa itu mempunyai tali-temali secara internal (fonem, kata, frase, klausa, dan kalimat) dan eksternal. Hubungan antarunsur tadi diatur oleh gramatika yang merupakan komponen kebahasaan sebagai dasar untuk memahami dan menggunakan bahasa. Secara eksternal, bahasa mempunyai hubungan dengan budaya dan seluruh bidang kehidupan.

Konsep Pemerolehan Bahasa

Sejak tahun 1979 dunia pendidikan di Indonesia berkenalan dengan pembedaan antara hasil instruksional berupa kompetensi pebelajar atas pengetahuan dan keterampilan dalam ranah intelektual, emosional, dan fisik (psikomotor), dan hasil pengiring (nurturent effect), serta nilai (value). Pelajaran yang dapat dipetik dari konsep ini ialah ada sesuatu yang diperoleh siswa dari apa yang diajarkan guru atau dipelajari siswanya.
Hal tersebut sejajar dengan munculnya pembedaan antara konsep pembelajaran (learning) dan pemerolehan (acquisition) bahasa. Istilah "pemerolehan" terpaut dengan kajian psikolinguistik ketika kita berbicara mengenai anak-anak dengan bahasa ibunya. Dengan beberapa pertimbangan, istilah pertama dipakai untuk belajar B2 dan istilah kedua dipakai untuk bahasa ibu (B1). Faktanya, belajar selalu dikaitkan dengan guru, kurikulum, alokasi waktu, dan sebagainya, sedangkan dalam pemerolehan B1 semua itu tidak ada. Ada fakta lain bahwa dalam memperoleh B1, anak mulai dari nol; dalam belajar B2, pebelajar sudah memiliki bahasa.
Dengan "mesin" pemerolehan bahasa yang dibawa sejak lahir anak mengolah data bahasa lalu memproduksi ujaran-ujaran. Dengan watak aktif, kreatif, dan inofatif, anak-anak akhirnya mampu menguasai gramatika bahasa dan memproduksi tutur menuju bahasa yang diidealkan oleh penutur dewasa. Anak memiliki motivasi untuk segera masuk ke dalam lingkungan sosial, entah kelompok sebaya (peer group) atau guyup (community).

Bahasa Indonesia sebagai B2

Sudah dikemukakan bahwa teori tentang belajar B2 berasal dari dunia barat, dan B2 yang terlibat dalam teori ini adalah bahasa Inggris. Dalam menerapkan teori tersebut, kita perlu bersikap lebih arif bahkan kalau mungkin menciptakan teori berdasarkan pengalaman kita.
Keragaman bahasa tidak boleh membuat kita lupa bahwa yang harus diajarkan kepada siswa asing ialah ragam baku (lihat Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, dan Pedoman EYD).
Hal lain yang harus diingat ialah bahwa BI mempunyai karakteristik tersendiri termasuk aspek gramatika, konsep tentang ruang dan waktu. Kita punya sini, situ, sana; kita bisa mengucapkan Selamat malam, ketika bertemu orang pada pukul 19.00 atau 02.00; bahkan Selamat bekerja, Selamat belajar (yang padanannya dalam bahasa Inggris pasti tidak memakai Good& ).

Pengalaman Penulis dan Peran Guru

Dalam pengertian belajar di atas, guru berperan sebagai salah satu tonggak lingkungan, nara sumber, pemberi masukan, model bahasa sasaran, dan pemberi balikan. Berikut adalah paparan penulis tentang pengalaman pribadinya dalam belajar dan mengajar B2.
Penulis mengenal bahasa Inggris ketika menjadi murid SMP, 1951, dan selama tiga tahun diajar secara bergantian oleh empat guru dengan kemampuan dan gaya yang berbeda. Yang mereka ajarkan sebagian besar ialah kaidah gramatika, kosakata, dan terjemahannya; tidak ada model pembelajaran yang komunikatif atau dialog.
Memasuki SMA/A penulis mempunyai guru yang pintar berbahasa Inggris dan mampu berperan sebagai pemberi motivasi. Beliau memberikan instruksi dalam bahasa Inggris dan ketika saya belum mampu bertutur dalam bahasa Inggris beliau menjelaskan dalam BI. Penulis juga mempunyai seorang teman yang pandai berbahasa Inggris. Di kelas 3 ada 3 teman baru yang bahasa Inggrisnya juga bagus. Mereka ini menambah lingkungan belajar yang makin kaya. Sementara itu, guru tidak mampu memperhatikan secara individual kebutuhan dan hambatan belajar siswa. Dalam bahasa pendidikan, guru saya belum berperan sebagai pelaku remedial bagi tiap-tiap siswa.
Dengan modal pas-pasan saya masuk ke IKIP (waktu itu bernama PTPG), 1957, jurusan bahasa Indonesia. Mata kuliah Aplikasi Bahasa Inggris diajarkan di tingkat 1. Guru kami, Mr Tan, terkenal "maut" di jurusan bahasa Inggris sehingga kami merasa takut untuk berkomunikasi. Materi yang disajikan betul-betul sesuai dengan kebutuhan kami, yakni membaca bacaan berbahasa Inggris yang isinya berkaitan dengan ihwal kebahasaan.
Dorongan belajar makin meningkat ketika di tahun ke-3 datang dosen baru, Drs. Umar Junus (terakhir profesor di Universitas Malaysia, Kuala Lumpur), yang dalam berkuliah banyak mengutip bahasa Inggris. Di tingkat 3 itu pula, saya mencoba menerjemahkan 3 bab buku Bloomfield Language. Tanpa disadarinya, dosen ini mampu menjadi lingkungan yang baik memberi saya motivasi belajar.
Tahun 1960 saya menamatkan Sarjana Muda saya. Tahun 1961 ketika di tingkat doktoral saya bertemu lagi dengan dosen tadi. Saya mempunyai 4 teman belajar yang bahasa Inggrisnya lumayan baik. Umar Junus menuntut kami mempelajrai buku Noam Chomsky, Syntactic Structure. Komunitas yang menjadi lingkungan saya lebih baik lagi karena ada banyak mahasiswa jurusan bahasa Inggris.
Tahun 1968 saya pindah ke Singaraja. Tahun 1971 saya diminta memberi pelajaran bahasa Indonesia kepada seorang warga Amerika, tanpa memiliki buku pegangan dan tentu saja tanpa pengalaman mengajar BIPA. Syukur, dia (si Amerika) punya buku pegangan terbitan Singapura yang di sana-sini tidak sesuai dengan kondisi BI. Metode yang saya gunakan ialah komunikatif praktis, tanpa saya ketahui apakah metode itu benar atau salah. Saya kadang-kadang menjelaskan sesuatu dalam bahasa Inggris; dan kalau bahasa Inggris saya keliru dia bertanya (dalam bahasa Inggris) tentang maksud penjelasan saya. Dalam berbagai kesempatan, saya ajak dia berdialog dalam bahasa campuran Indonesia-Inggris.
Pengalaman mengajar tadi memberi hal-hal positif pada saya. Saya makin berani berbicara dalam bahasa Inggris dan "tidak takut salah". Saya juga memperoleh banyak ungkapan bahasa Inggris untuk mengoreksi kesalahan saya. Murid ini ternyata telah menjadi guru saya dalam belajar B2. Karena dia penutur asli (native speaker), maka saya yakin bahasa Inggris yang saya terima pasti benar. Saya telah memperoleh lingkungan alami dalam sosok seorang guru, meskipun alaminya belum sempurna.
Tahun 1975 saya nekat masuk menjadi mahasiswa reguler jurusan bahasa Inggris di FKIP Singaraja. Akhir 1976, ketika saya naik tahun ke-3 saya mengikuti tes bahasa Inggris untuk belajar ke luar negeri. Awal 1977 saya berangkat ke Australia, tinggal di sana selama dua tahun.
Australia adalah negeri "tuan rumah" bahasa Inggris bagi saya. Sifat alami lingkungan saya adalah nyata dan saya banyak memperoleh bahasa Inggris dari "guru-guru informal dan natural".
Beberapa tahun kemudian saya berkesempatan mengajarkan BI kepada seorang penutur asli bahasa Perancis, yang sudah cukup baik kemampuannya ber-BI. Metode yang saya pakai mirip dengan pengalaman pertama. Mungkin karena kecerdasannya yang cukup baik, tampak dari pertanyaan-pertanyaannya yang kritis, maka dalam dua bulan pertama dia sudah mampu mengambil putusan untuk berhenti berlangganan koran lokal di Bali, dan menggantikannya dengan koran yang dinilainya sendiri bagus.
Beberapa tahun terakhir ini saya diberi tugas untuk mengajar sejumlah mahasiswa Australia yang kemampuan bahasa Indonesianya amat rendah. Saya melakukan cara-cara berikut: menggunakan bahasa campuran (Inggris-BI), berbicara BI dalam kecepatan rendah (konvergensi); tidak menuntut pebelajar untuk segera berbicara BI; saya memakai banyak gambar dan bagan untuk menjelaskan; dalam beberapa hal saya menggunakan konstruksi-kalimat bandingan (BI-Inggris). Secara makro, mereka saya dorong untuk berinteraksi dengan lingkungan alami (kampus dan luar kampus), mulai dengan "masa diam" (silent period) untuk memahami ujaran dan melakukan komunikasi satu arah.

Penutup

Dari paparan setakat ini saya dapat merangkum pandangan saya sbb: dalam pembelajaran BIPA saya memakai pandangan Piaget bahwa belajar adalah interaksi antara pebelajar dengan lingkugan (makro dan mikro), melalui akomodasi (reseptif, memahami, masa diam) dan asimilasi. Guru berperan sebagai pencipta kondisi lingkungan yang kondusif, pemotivasi, nara sumber, model, dan pemberi balikan. Dalam posisi semacam itu saya berharap guru BIPA menyadari pentingnya analisis kebutuhan pebelajar secara individual; pemahaman terhadap berbagai ragam BI khususnya ragam yang selama ini mungkin melekat pada dirinya; penciptaan teknik-teknik mengajar yang khas tetapi harus tetap pada alur pendekatan komunikatif dan integratif dan tetap memperhatikan konsep pemerolehan B2 melalui balikan-balikan terhadap tutur pebelajar sebagai bahan remedial bagi tutur yang memerlukan koreksi.
Disajikan dalam Lokakarya BIPA Regional Bali III, IALF Bali, 11 Desember 1999.

Daftar Bacaan:

Goodman, Ken. What's Whole in Whole Language. Toronto, Scholastic TAB Publishing Ltd.
Joni, T. Raka. Cara Belajar Siswa Aktif. Jakarta,P2LPTK, Ditjen Dikti.
Laarsen-Freeman, Diana. 'Expanding Roles of Learners and Teachers in Learner-Centered Instruction', dalam Willy A. Renandya dan George Jacobs (eds.). Learners and Learning. Singapore, SEAMEO Regional Language Centre.
Sumarsono:
1984 Seluk Beluk Pemerolehan Bahasa Pertama. BacaanPsikolinguistik. Diktat. Singaraja, FKIP UNUD. 1985 Seluk Beluk Belajar Bahasa Kedua. Adaptasi Heidy Dulay. Language Two. 1982.
1999a 'Pelaksanaan Pengajaran bahasa Indonesia yang terpadu dengan Berbagai Bidang Studi yang Praktis dan Murah', makalah dalam Seminar Pengajaran Bahasa dan Sastra, HUT Univ. Bung Hatta, Padang, 15-16 April 1999.
1999b 'Kondisi Pengajaran Bahasa Indonesia yang terpadu dengan Berbagai Bidang Studi yang Praktis dan Murah, makalah dalam Seminar Pengajaran Bahasa dan Sastra, HUT Univ. Bung Hatta, Padang, 15 - 16 April 1999.