Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, 27 Maret 2011

Lingkungan Sosial Budaya

Manusia adalah makhluk hidup yang dapat dilihat dari dua sisi, yaitu sebagai makhluk
biologis dan makhluk sosial. Sebagai makhluk biologis, makhluk manusia atau “homo
sapiens”, sama seperti makhluk hidup lainnya yang mempunyai peran masing-masing
dalam menunjang sistem kehidupan. Sebagai makhluk sosial, manusia merupakan bagian
dari sistem sosial masyarakat secara berkelompok membentuk budaya.
Ada perbedaan mendasar tentang asal mula manusia, kelompok evolusionis pengikut,
  Darwin menyatakan bahwa manusia berasal dari kera yang berevolusi selama ratusan ribu tahun, 
berbeda dengan kelompok yang menyanggah teori evolusi melalui teori penciptaan, 
menyatakan bahwa manusia itu diciptakan oleh Allah.
Pemahaman tentang hidup dan kehidupan, itu tidak mudah. Makin banyak hal yang Anda
lihat tentang gejala adanya hidup dan kehidupan, makin nampak bahwa hidup itu sesuatu
yang rumit. Pada individu dengan organisasi yang kompleks, hidup ditandai dengan
eksistensi vital, yaitu: dimulai dengan proses metabolisme, kemudian pertumbuhan,
perkembangan, reproduksi, dan adaptasi internal, sampai berakhirnya segenap proses itu
bagi suatu “individu”. Tetapi bagi “individu” lain seperti sel-sel, jaringan, organ-organ,
dan sistem organisme yang termasuk dalam alam mikroskopis, batasan hidup adalah tidak
jelas atau samar-samar.
Kehidupan adalah fenomena atau perwujudan adanya hidup, yang didukung tidak saja
oleh makhluk hidup (biotik), tetapi juga benda mati (abiotik), dan berlangsung dalam
dinamikanya seluruh komponen kehidupan itu. Ada perpaduan erat antara yang hidup
dengan yang mati dalam kehidupan. Mati adalah bagian dari daur kehidupan yang
memungkinkan terciptanya kehidupan itu secara berlanjut.
Makhluk hidup bersel satu adalah makhluk yang pertama berkembang. Jutaan tahun
kemudian kehidupan di laut mulai berkembang. Binatang kerang muncul, lalu ikan
kemudian disusul amphibi. Lambat laun binatang daratan berkembang pula muncul
reptil, burung dan binatang menyusui. Baru kira-kira 25 juta tahun yang lalu muncul
manusia kemudian berkembang berkelompok dalam suku-suku bangsa seperti saat ini,
dan hampir di setiap sudut bumi ditempati manusia yang berkembang dengan cepat.
Lingkungan hidup adalah suatu konsep holistik yang berwujud di bumi ini dalam bentuk,
susunan, dan fungsi interaktif antara semua pengada baik yang insani (biotik) maupun
yang ragawi (abiotik). Keduanya saling mempengaruhi dan menentukan, baik bentuk dan
perwujudan bumi di mana berlangsungnya kehidupan yaitu biosfir maupun bentuk dan
perwujudan dari kehidupan itu sendiri, seperti yang disebutkan dalam hipotesa Gaia.
Lingkungan hidup yang dimaksud tersebut tidak bisa lepas dari kehidupan manusia, oleh
karena itu yang dimaksud dengan lingkungan hidup adalah lingkungan hidup manusia.
Permasalahan Lingkungan Hidup
Belum ada definisi tentang lingkungan sosial budaya yang disepakati oleh para ahli sosial,
karena perbedaan wawasan masing-masing dalam memandang konsep lingkungan sosial
budaya. Untuk itu digunakan definisi kerja lingkungan sosial budaya, yaitu lingkungan
antar manusia yang meliputi: pola-pola hubungan sosial serta kaidah pendukungnya yang
berlaku dalam suatu lingkungan spasial (ruang); yang ruang lingkupnya ditentukan oleh
keberlakuan pola-pola hubungan sosial tersebut (termasuk perilaku manusia di
dalamnya); dan oleh tingkat rasa integrasi mereka yang berada di dalamnya.
Oleh karena itu, lingkungan sosial budaya terdiri dari pola interaksi antara budaya,
teknologi dan organisasi sosial, termasuk di dalamnya jumlah penduduk dan perilakunya
yang terdapat dalam lingkungan spasial tertentu.
Lingkungan sosial budaya terbentuk mengikuti keberadaan manusia di muka bumi. Ini
berarti bahwa lingkungan sosial budaya sudah ada sejak makhluk manusia atau homo
sapiens ini ada atau diciptakan. Lingkungan sosial budaya mengalami perubahan sejalan
dengan peningkatan kemampuan adaptasi kultural manusia terhadap lingkungannya.
Manusia lebih mengandalkan kemampuan adaptasi kulturalnya dibandingkan dengan
kemampuan adaptasi biologis (fisiologis maupun morfologis) yang dimilikinya seperti
organisme lain dalam melakukan interaksi dengan lingkungan hidup. Karena Lingkungan
hidup yang dimaksud tersebut tidak bisa lepas dari kehidupan manusia, maka yang
dimaksud dengan lingkungan hidup adalah lingkungan hidup manusia.
Rambo menyebutkan ada dua kelompok sistem yang saling berinteraksi dalam lingkungan
sosial budaya yaitu sosio sistem dan ekosistem. Sistem sosial tersebut meliputi: teknologi;
pola eksploitasi sumber daya; pengetahuan; ideologi; sistem nilai; organisasi sosial;
populasi; kesehatan; dan gizi. Sedangkan ekosistem yang dimaksud meliputi tanah, air,
 
udara, iklim, tumbuhan, hewan dan populasi manusia lain. Dan interaksi kedua sistem tersebut
melalui proses seleksi dan adaptasi serta pertukaran aliran enerji, materi, dan informasi. 
 
STRUKTUR DAN FUNGSI EKOSISTEM
Struktur Ekosistem 
 
Manusia sebagai mahluk sosial, tidak dapat hidup secara individu, selalu berkeinginan
untuk tinggal bersama dengan individu-individu lainnya. Keinginan hidup bersama ini
terutama berhubungan dalam aktivitas hidup pada lingkungannya. Manusia mempunyai
kedudukan khusus terhadap lingkungannya dibandingkan dengan mahluk hidup lainnya,
yaitu sebagai khalifah atau pengelola di atas bumi.
Manusia dalam hidup berkelompok ada yang membentuk masyarakat, dan tidak setiap
kelompok dapat disebut masyarakat, karena masyarakat mempunyai syarat-syarat
tertentu sebagai ikatan kelompok. Masyarakat dapat diartikan sebagai kesatuan hidup
manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat-istiadat tertentu yang bersifat
kontinyu, dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama.
Dinamika masyarakat memberikan kesempatan kebudayaan untuk berkembang, sehingga
dapat dikatakan bahwa tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat, dan tidak ada
masyarakat tanpa kebudayaan sebagai wadah pendukungnya.
Azas-azas dan ciri-ciri kehidupan berkelompok pada mahluk hidup, juga dijalani oleh
manusia dalam bermasyarakat.
Fungsi Ekosistem
Kebudayaan dapat diartikan dengan hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Kebudayaan
adalah keseluruhan dari kelakuan dan hasil kelakuan manusia, yang teratur oleh tata
kelakuan yang harus di dapatnya dengan belajar, yang semuanya tersusun dalam
kehidupan masyarakat. Tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat, dan tidak ada
masyarakat tanpa kebudayaan.
Kebudayaan adalah keseluruhan pola tingkah laku dan pola bertingkah laku, baik secara
eksplisit maupun implisit, yang diperoleh dan diturunkan melalui simbol, yang akhirnya
mampu membentuk sesuatu yang khas dari kelompok-kelompok manusia, termasuk
perwujudannya dalam benda-benda materi.
Kebudayaan mencakup ruang lingkup yang luas, yang wujudnya dapat berupa
kebudayaan hasil rasa atau sistem budaya (norma, adat istiadat), hasil cipta (fisik) dan
konsep tingkah laku (sistem sosial).
Kebudayaan dimulai sejak adanya mahluk Homo Neanderthal (ras manusia yang sudah
punah) kurang lebih 200.000 tahun yang lalu. Mahluk ini diperkirakan sudah mempunyai
bahasa, dengan volume otak yang hampir sama dengan manusia. Kemudian muncul
mahluk homo sapiens kurang lebih 80.000 tahun yang lalu. Dua unsur yang
memungkinkan kebudayaan manusia bisa berevolusi adalah bahasa dan akal.
Perkembangan kebudayaan berkembang sangat lamban dimulai dari adanya mahluk
Neanderthal hingga revolusi pertanian (10.000 th. yang lalu), tetapi sejak revolusi industri
(abad 18 M), kebudayaan berkembang dengan pesat. Lebih-lebih zaman sekarang (abad
20) yang ditandai dengan gencarnya inovasi teknologi; era informasi; peluang ekonomi
yang tak terbayangkan sebelumnya; dan reformasi politik yang radikal dan berdampak
global. Sehingga ada kecenderungan berbudaya gaya internasional. Perkembangan
budaya ini dipengaruhi oleh alam pikiran yang menjadikan tahapan perkembangan dalam
budaya mitis, ontologis, dan fungsional.
Begitu banyak unsur-unsur budaya yang ada di dunia ini, namun ada unsur-unsur
kebudayaan yang bersifat universal, yaitu tujuh unsur kebudayaan meliputi: bahasa;
sistem pengetahuan; organisasi sosial; sistem peralatan hidup dan teknologi; sistem mata
pencaharian hidup; sistem religi; dan kesenian. Ketujuh unsur budaya ini terintegrasi
sebagai satu kesatuan yang utuh dalam suatu masyarakat sebagai ciri dari suatu budaya
melalui proses penyesuaian, sehingga memungkinkan unsur-unsur tersebut berfungsi
secara seimbang. Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk, integrasi sosial sebagai
usaha untuk menjalin hubungan yang serasi.
KOMUNITAS, POPULASI, DAN SPESIES
Komunitas
Kota adalah salah satu habitat manusia yang merupakan lingkungan alam yang telah
berubah drastik menjadi lingkungan buatan, untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.
Batasan kota bervariasi tergantung dari sudut pandang pengamat.
Pola lokasi kota bervariasi karena banyak faktor-faktor yang mempengaruhi. Sedangkan
untuk struktur ruang kota, ada tiga pola ruang kota yaitu berupa lingkaran konsentris,
pola sektor, dan pola inti ganda.
Memahami kehidupan dan lingkungan hidup kota tak ubahnya kita memahami jasad
hidup, yaitu jasmani kota dan rohani kota. Jasmani kota ada yang berupa metabolisme
kota, peredaran makanan atau darah kota, sistem syaraf kota, dan tulang-tulang struktur
kota yang berupa infrastruktur.
Dari uraian-uraian di atas dapat diketahui ciri-ciri kota dan masyarakatnya, sebagai
berikut:
1.Kota mempunyai fungsi-fungsi khusus (satu kota bisa berbeda dengan fungsi kota
yang lain).
2. Mata pencaharian penduduknya di luar agraris (non-agraris).
3. Adanya spesialisasi pekerjaan warganya.
4. Kepadatan penduduk relatif tinggi.
5. Warganya relatif mobility.
6. Tempat permukiman yang tampak permanen.
7. Sifat-sifat warganya yang heterogen, kompleks, hubungan sosial yang impersonal
dan external, serta personal segmentation, karena begitu banyaknya peranan dan
jenis pekerjaan seseorang dalam kelompoknya sehingga seringkali orang tidak
kenal satu sama lain, seolah-olah seseorang menjadi asing dalam lingkungannya.
Kota mempunyai fungsi tertentu yang berbeda antara satu dengan kota lainnya.
Perbedaan tersebut akan menghasilkan karakter tertentu pula bagi penduduknya.
Terciptalah pula suatu masyarakat yang mempunyai ciri-ciri sosial budaya yang berbeda
dengan masyarakat di luarnya, antara satu kota dengan kota lainnya.
Populasi
Pengertian desa sebagai tempat permukiman sangat beragam tergantung dari kacamata
pengamatnya, bisa ditinjau dari aspek morfologi, aspek jumlah penduduk, aspek ekonomi,
dan aspek sosial budaya serta aspek hukum.
 
Masyarakat desa selalu dikonotasikan dengan ciri tradisional, kuatnya ikatan dengan
alam, eratnya ikatan kelompok, guyup rukun, gotong royong, alon-alon asal kelakon, dan
paternalistik.
Pada umumnya mata pencaharian penduduk di perdesaan adalah bercocok tanam atau
bertani. Ada pekerjaan lain seperti bertukang, kerajinan atau pekerjaan lain, tetapi
pekerjaan ini merupakan pekerjaan sambilan sebagai pengisi waktu luang.
Pembagian kerja di desa relatif sederhana bila dibandingkan dengan kota. Struktur sosial
di kota mengenal diferensiasi yang luas sedangkan di perdesaan relatif sederhana. Di
perdesaan orang lebih menghayati hidupnya, terutama pada kelompok primer dan
berorientasi pada tradisi, serta cenderung konservatif.
Pola ruang desa-desa Indonesia cukup bervariasi tergantung dari di mana lokasi desa itu berada,
yaitu:
Pola Melingkar; Pola Mendatar; Pola Konsentris; Pola memanjang jalur sungai atau Jalan; 
Pola mendatar dan pola Konsentris Desa di Jawa Timur.
 
MANUSIA DAN LINGKUNGAN HIDUP
Kedudukan Manusia dalam Lingkungan Hidup dan Dinamika Populasi
Interaksi sosial merupakan hubungan sosial yang dinamis, yang meliputi hubungan antara
masing-masing individu; antara kelompok maupun antara individu dengan kelompok.
Melihat interaksi manusia dapat dilihat dalam dua tingkat (kacamata), yaitu tingkat
hayati dan tingkat sosial atau budaya.
Interaksi sosial tidak akan terjadi bila tidak memenuhi dua syarat, yaitu: (1) Adanya
kontak sosial (social-contact); (2) adanya komunikasi (communications). Dan menurut
ahli-ahli sosial bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (co-operation),
persaingan (competition), pertentangan atau pertikaian (conflict), dan dapat juga
berbentuk akomodasi (accommodation).
Menurut kacamata ahli ilmu alam, dasar proses interaksi manusia adalah kompetisi.
Kompetisi itu pada hakekatnya berlangsung dengan proses kerjasama yang spontan dan
tidak berencana, membentuk apa yang disebut koperasi yang kompetitif. Sebagai akibat
timbullah apa yang disebut relasi yang simbiotik.
Relasi simbiotik itu dalam bentuk mutualisme, komensalisme, amensalisme, kompetisi,
parasitisme, dan predasi
Interaksi pada makhluk hayati terjadi secara netral, untuk keseimbangan ekosistem itu
sendiri. Interaksi sosial pada manusia tidak terjadi secara netral, ada norma-norma moral
manusia. Dalam interaksinya dengan lingkungan cenderung antroposentrik, sehingga
membuka peluang manusia untuk bersifat eksploitatif terhadap lingkungannya. Tetapi
dengan memadukan sikap imanen dan transenden sebagai dasar moral dan tanggung
jawab dalam memanfaatkan alam sifat eksploitatif dapat lebih terkendali.
Lingkungan Hidup Buatan
Untuk memahami perilaku atau tingkah laku manusia dapat ditelusuri melalui persepsi
manusia terhadap lingkungannya. Persepsi adalah stimulus atau sesuatu yang dapat
memberikan rangsangan pada syaraf, yang ditangkap oleh panca indera serta diberi
interpretasi (arti) oleh sistem syaraf.
Dalam melihat persepsi ini ada dua pendekatan yaitu pendekatan konvensional dan
pendekatan ekologis dari Gibson.
Usaha menjelaskan perilaku sebagai ungkapan persepsi dapat dilihat dari interaksi antara
rangsangan (stimulus) terhadap reaksi (respons). Beberapa aliran hubungan Stimulus –
Response antara manusia dengan lingkungannya, adalah: aliran determinisme;
interaksionisme; dan transaksionisme.
Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi persepsi seseorang terhadap
lingkungannya, adalah faktor obyek fisik dan faktor individu. Hasil interaksi individu
dengan obyek fisik menghasilkan persepsi individu tentang obyek tersebut.
Sedangkan respon manusia terhadap lingkungannya bergantung pada bagaimana individu
mempersepsikan lingkungannya. Respon ini dapat dilihat dari gejala-gejala persepsi
mereka terhadap ruang sebagai lingkungan tempat tinggalnya, yaitu meliputi personal
space, privacy, territoriality, crowding dan density, peta mental, serta stress.
 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar