Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, 27 Maret 2011

PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM

Sumber Daya Alam Secara Umum
Pembangunan adalah sebagai suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan
perubahan yang berencana yang dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan
pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa.
Konsep pembangunan tersebut dapat dilihat sebagai konsep pertumbuhan (growth);
rekonstruksi (reconstruction); modernisasi (modernization); westernisasi (westernization);
pembangunan bangsa (nation building); pembangunan nasional (national development);
pembangunan sebagai pengembangan negara; dan pembangunan sebagai upaya
pemenuhan hidup, kebebasan memilih dan harga diri.
Di Indonesia teori pembangunan dijabarkan sebagai konsep pembangunan bertahap yaitu:
pembangunan berimbang (balanced development); tahap pembangunan memenuhi
kebutuhan pokok; tahap pembangunan dengan pemerataan; dan terakhir adalah tahap
pembangunan dengan kualitas hidup, yaitu pembangunan manusia Indonesia seutuhnya
dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Dengan strategi yang diterapkan adalah
Trilogi Pembangunan meliputi: pertumbuhan ekonomi; pemerataan kesejahteraan sosial;
dan stabilitas politik. Jika kita lihat tahapan pembangunan pada teori pembangunan
tersebut di atas, terlihat bahwa Indonesia pun mengikuti tahapan pembangunan tersebut.
Konsekuensi pembangunan adalah melakukan perubahan sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup. Sedangkan perubahan baik pada lingkungan fisik maupun lingkungan sosial budaya ini berdampak positif dan negatif.
Neraca pembangunan yang terjadi saat ini dirasakan tidaklah menggembirakan. Di satu
sisi ada kemajuan, di lain sisi ditemukan kerusakan lingkungan yang secara serius
akhirnya mengganggu kehidupan manusia dan kelangsungan pembangunan itu sendiri.
Hal ini tidak hanya terjadi di negara-negara berkembang, yang sedang giat-giatnya
membangun, tetapi juga di alami oleh negara-negara maju.
Oleh karena itu, muncullah konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable
development) sebagai upaya meleburkan atau melarutkan lingkungan ke dalam
pembangunan, yaitu dengan tetap berusaha atau membangun tidak melampaui
kemampuan ekosistem yang mendukung kehidupannya. Setelah permasalahan lingkungan
dirasakan dapat mengganggu kehidupan manusia dan kelangsungan pembangunan itu
sendiri.
Sumber Daya Alam Terbarui
Perubahan sosial adalah suatu perubahan yang terjadi pada sistem sosial yang mencakup
tata nilai sosial, sikap, dan pola perilaku kelompok. Perubahan sosial merupakan
perubahan kelembagaan masyarakat dan perubahan individu.
Ada lima bentuk perubahan sosial, yaitu:
(1) perubahan evolusioner; 
(2) perubaharevolusioner; 
(3) perubahan dialektikal;
(4) perubahan dipaksakan; dan 
(5) perubahan 
terkendali.

Sedangkan perubahan bentuk perubahan budaya adalah: 
(1) Alkulturasi; 
(2) Asimilasi;
(3)Difusi; 
(4) Sinkretisme; dan
(5) Penetrasi.
Dalam konteks pengelolaan lingkungan, masyarakat tradisional lebih bersandar pada
penyesuaian masyarakat pada lingkungannya. Sedangkan masyarakat modern
mengandung lebih banyak unsur yang berkaitan dengan mengatasi atau mengubah
kendala lingkungan hidup.
Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan dapat dibagi dalam 2 sifat yaitu
perubahan endogenik (perubahan dari dalam), dan perubahan exogenik (dari luar).
Pada umumnya perubahan dari luar akan mempunyai dampak yang lebih besar, dan lebih banyak berhubungan dengan aspek pembangunan, serta bersifat revolusioner. Walaupun demikian tidak berarti bahwa perubahan dari dalam tidak bisa serius.
Di dalam suatu masyarakat yang sedang membangun, perlu terjadi suatu perubahan sosial
yang diberi nama modernisasi. Modernisasi dapat diartikan sebagai penerapan
pengetahuan ilmiah yang ada pada semua aktifitas, semua bidang kehidupan, atau semua
aspek-aspek masyarakat. Untuk mendukung modernisasi perlu suatu tata nilai modern
pada individu, yang mencakup kualitas pribadi dan tersebarnya pengetahuan ilmiah serta
keterampilan teknis. Tata nilai modern pada individu harus melembaga pula pada suatu
kelembagaan sosial yang modern. Mana yang menjadi unsur utama, para ahli masih
belum ada kesepakatan.
Dari pengalaman pembangunan di Dunia Ketiga, diketahui bahwa modernisasi tanpa
didukung oleh perubahan sosial tidaklah efektif. Oleh karena itu, perubahan sosial
hendaknya memperhatikan nilai teologi etis atau teologi pembebasan dan bersifat suatu
perubahan sosial yang baru atau pembaruan yang dibawa oleh tokoh-tokoh agen
pembaruan.

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
Pembangunan Konvensional dan Permasalahan Lingkungan Hidup 
Pendudukan dan lingkungan hidup berkaitan erat. Keprihatinan tentang masalah
kependudukan sebetulnya telah lama dirasakan. Sekarang keprihatinan itu telah
meningkat kembali setelah kita sendiri menjadi lebih sadar tentang berbagai dampak
pertumbuhan penduduk yang tak terkendalikan di negara kita sendiri.
Bersamaan dengan meningkatnya kesadaran lingkungan hidup, telah meningkat pula
kesadaran tentang kaitan antara lingkungan hidup dengan aspek kependudukan.
Bagi lingkungan sosial, masalah kependudukan dan lingkungan hidup merupakan unsur atau komponen dari masalah lingkungan sosial, yaitu masalah perubahan sosial di segala segi kehidupan, akibat perubahan dari segi material dan teknologi yang lebih cepat dari pada laju perubahan dari segi tata nilai atau gaya hidup.
Oleh karena itu, untuk menanggapi masalah kerusakan lingkungan hidup, pola hidup
penduduk harus berubah sehingga tumbuh masyarakat yang mampu menopang suatu
pembangunan yang dapat memperbaiki mutu kehidupan manusia dengan tetap berusaha
tidak melampaui kemampuan ekosistem yang mendukung kehidupannya.
Untuk menumbuhkan masyarakat yang seperti itu, perlu dikembangkan prinsip etika
(prinsip pertama dari prinsip-prinsip berkelanjutan) yang mengindahkan semangat
gotong royong. Di atas prinsip gotong royong dikembangkan empat prinsip berkelanjutan,
yaitu:
1. Prinsip meningkatkan kualitas hidup. Pembangunan ini baru berarti jika
    meningkatkan kualitas hidup dalam segala seginya;

2. Prinsip melestarikan vitalitas dan keanekaragaman bumi agar pembangunan bisa berlanjut;

3. Prinsip minimalisasi penciutan sumberdaya alam yang tidak diperbarui; dan

4. Prinsip mengindahkan daya dukung lingkungan.
Kualitas hidup yang tinggi, yang memperhatikan ekologi berkelanjutan sebagai hasil dari
pembangun yang berkelanjutan, memerlukan indikator-indikator sebagai alat untuk
mengukur kemajuan ke arah masyarakat yang berkelanjutan. Mencakup: kualitas hidup;
keberlanjutan ekologi; keberlanjutan penggunaan sumber daya terbarukan dan
meminimumkan penggunaan sumberdaya tak terbarukan; dan faktor sosial ekonomi.

Konsep Pembangunan yang Berkelanjutan 
Kasus-kasus pencemaran dan kerusakan seperti di laut, hutan, atmosfer, air, tanah, dan
seterusnya bersumber pada perilaku manusia yang tidak bertanggung jawab, tidak peduli
dan hanya mementingkan diri sendiri. Oleh karena itu, krisis lingkungan ini hanya bisa
diatasi dengan melakukan perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam
yang fundamental dan radikal melalui etika lingkungan yang dibutuhkan untuk menuntun
manusia berinteraksi dengan alam semesta.
Ada dua pemahaman tentang etika, yaitu etika yang dipahami sebagai moral dan etika
yang dipahami dalam pengertian yang berbeda dengan moralitas, sehingga mempunyai
pengertian yang lebih luas dan merupakan refleksi kritis bagaimana manusia harus
bertindak dalam situasi konkret dan situasi tertentu melalui penelusuran kritis teori etika
deontologi, etika teleologi, dan etika keutamaan.
Sedangkan etika lingkungan di sini dipahami sebagai disiplin ilmu yang berbicara
mengenai norma dan kaidah moral yang mengatur perilaku manusia dalam berhubungan
dengan alam serta nilai dan prinsip moral yang menjiwai perilaku manusia dalam
berhubungan dengan alam.
Berbagai teori etika lingkungan dapat menjelaskan pola perilaku manusia dalam kaitan
dengan lingkungan. beberapa teori etika lingkungan ini merupakan perkembangan
pemikiran di bidang etika lingkungan, yaitu Shallow Environmental Ethic, Intermediate
Environmental Ethic, dan Deep Environmental Ethic. Ketiga teori ini dikenal sebagai
antroposentrisme, biosentrisme, dan ekosentrisme. Ketiga teori ini mempunyai cara
pandang yang berbeda tentang manusia, alam, dan hubungan manusia dengan alam.
Sumber Buku Lingkungan Sosial Budaya Karya Bambang Deliyanto



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar